Aku Berhenti untuk Menyerah
Dengan empat lembar uang merah ini ku langkahkan kaki sampai di kota. cukupkah ini, pertanyaan yang jawabku tak peduli akan keadaan setelah ini. benar-benar tanpa persiapan sepatu tak bawa, baju kaos harian sedang di sini tuntutan sosialnya memakai baju sopan dan rapi. celana jins ini akan aku apakan ? kemana akan aku jual. keluh demi keluh mahasiwa baru di kota yang sangat asing.
ini seperti mimpi mana ada hanya dengan modal empat lembar dan nekat bisa kuliah. bukan hanya ini di genggamanku tapi ada sosok dibalik nekatku dialah sahabatku yang dengan tangannya meminjamkan dana cukup untuk pendaftaran dan bonus kontarakan kos. sahabatku aku tidak membawa rok sopan, maksudku rok span untuk tes nanti jam 08.00 AM, bolehkah aku meminjam rokmu dan nanti temani akau beli di pasar. jawaban yang selalu ia jawab iya pakai saja. nama sahabatku “fitri” pertemananku berawal di bangku SMA. rasanya tidak lengakap jika masalah tidak datang lagi dan lagi. selang dua bulan sahabatku pindah kampus tentu aku tidak mengikuti jejaknya. dengan sesalnya ia meminta maaf begitupun kedua orang tuanya. bagaimana tidak sedih menceritakan semuanya.
Ayahku berkata “angkat tangan” mengenai lanjutku kuliah dan aku duduk senyum dan ikhlas di rumah sepanjang rentang pendaftaran. sampai pada dering telponku membawa berita harapan dengan segala kelengkapan yang meyakinkanku untuk mengatakan ia. ia aku mau, aku mau kuliah dan akan kusisapkan sesegera mungkian karna waktuku hanya dua hari sebelum tes.
kuceritakan kepada kakak laki-lakiku, aku ingin kuliah. jawabnya tanpa kata dengan muka sedih dan seperti ingin melarangku. sampaiku duduk di hadapan kedua orang tuaku mengatakan semuanya mulai dari pembiayaan hidup di sana semua tidak perlu di kawatirkan, degan nada lirih pa’ , bu’ aku minta uang saku tranfor kesana dan empat lembar inilah yang ku maksud.
sebulan kepergian sahabatku serasa kering, kering akan makanan sehat. serba irit mie sebungkus di makan dua kali dan itu menyakitkan. dengan berat dan solusi terahir tak kuat hidup tanpa uang ku telpon ortu di rumah, aku curahkan semua unek-unek bersama suara memelas. ayah anakmu ini sedang lapar bukan hanya itu pembayaran kos tidak lama jatuh tempo dan rincian kebutuhankupun sangat jelas. solusi yang kuberikan pada ayah jelas untuk ini dan ini dan aku berencana pindah kos. berapa yang ayahku sanggupi iyah 10 lembar. lima lembar bayar kos baru dengan jangka 10 bulan dan itu kos yang paling murah jangan sangka aku berdua di dalam. berselang beberapa minggu akupun pasrah dengan curhat ke beberapa dosen dan dengan solusi yang tak mampu aku realisasikan aku diam. inilah akhir perjuanganku, dan aku harus terima. ku habiskan sisa uang yang ada seraya mengharapkan keajaiban. ya Allah hamba pasrah dan hilangkan rasa menyesal ini di dada oleh nekatku lanjut kuliah, dengan nekatku menerima tawaran (berhutang) uang pendaftaran, berhutang budi pada sahabatku semuanya. semua yang melekat di badanku, tempat lelapku, prabotan dapur ini milik sahabatku. kemana akan aku bawa aduanku ini. tidak kuat, aku ingin tidur bapak, bu’ do’akan anakmu bertahan disini tanpa harus pulang.
perkuliah masih berusaha ku jalani karna alhamdulillah masih dapat ku jangkau dengan jalan kaki. ku ingat saran dosenku yang memberiku modal untuk usaha namun di kampusku penjual makanan dan gorengan sudah banyak, peralatan dapurkupun serba mini. maaf niatku sangat dangkal aku tidak mampu menampik ketakutan gagalku. ku adukan pada mereka-mereka aku butuh pekerjaan namun tak kunjung ku dapat aku lelah berfikir. lagi-lagi maafkan aku wahai ragaku tak mampu menegakkan kepala dan menatap masa depan yang sukses. aku cupu tak mampu berfikir cemerlang pengetahuan sebelumku belum mengalami sampai pada menerapkan sendiri ‘’bisnis’’.
aku ingin pulang tapi malu. ibu kos carikan aku tempat menumpang agar aku bisa melanjutkan kuliahku, apapun asal aku bisa bertahan hiduup. aku tau solusi ini mungkin sulit bagiku namun hanya ini yang ku sanggupi. aku pernah mengalaminya tiga tahun di SMA. kerja sambil sekolah dan ini sedikit ringan meski tanpa gaji lembaran tapi setidaknya aku bisa makan enak dan bermalam di tempat yang menyibukkanku dari fikiran negatif. aku punya keluarga baru nantinya. Tidak ada sampai di titik batas konsumsi.
aku berhenti. titik.
Waktu terus berjalan aku terus melangkah disisa-sisa lembaran kertas ini. Siapakah yang bisa menolongku ?.
Aku lupa, aku punya Allah, astafirullah maafkan aku ya Allah.
Minggu sudah masuk ke tiga, desus-desus namaku terus di sebut. Ruang staf fakultas saling mengajukan namaku ke daftar beasiswa, iya beberapa dosen menjadi tempat aduanku sebelumnya. Rasa maluku seperti tertepih oleh tidak sanggunpku berhenti sampai disini. Harapku di tiap curhatku hanya satu ajak aku tinggal di rumah dosen, namun nihil solusi mereka aku memberi modal, aku belum siap dan tidak au mulai darimana. Aku anak baru lepas dari kandang, malu, culun dan semua aku tidak tau apa-apa di kota ini aku baru dua bulan, kemana aku mengadu lagi. Curhatanku itu berefek prihatinnya dosen dan staf dan ada kuota namakupun menjadi pertama mereka sebut. Benar cerita salah satu staf namamu terkenal, cepat urus berkas biar dapat beasiswa. Panas dingin, tidak percaya, namun aku tipikal suka berfikir pendek lakukan apa yang ad di depan mata. Aku pulang. .. terharu. Aku pulang untuk kembali membawa harapan aku tidak jadi berhenti kuliah, penuh syukur. Semalam saja aku di rumah di dekapan ibu, tanpa panjang kata aku bahagia, pagi mengurus berkas, siang tepat satu siang lanjut perjalananke kota. Ibu aku sayang ibu, lewat tangis sedih karena rindu akan keperianku sendiri. Aku menjauh dari ibu, meninggalkannya dan benar aku pulang sekali setahun dan aku ternya bisa. Bukan tega tapi inilah hidup dengan begini aku bertambah dewasa. Semua sendiri, hal yang sangat berat bagiku ialah beli beras, entah kenapa rasanya sayang banget, unag ini ooh ibu.