Sunday, November 14, 2021

Nyaman, tapi tak berjodoh

Pernah nyaman, cukup lama. Tidak lebih dari teman. Dia sangat menyukai ku, maksudnya aku asik di ajak ngobrol. Bahasa akrabnya Nyambung terus. Bukan hanya dia sih, beberapa teman cowokku mengakuinya.

Memang, aku berusaha menghibur dan mengisi luangnya. Tidak pernah berharap banyak, karena tak benar sedang mencari pasangan.

Kalau luang, dan tidak ada iklan sekali nelp itu minimal 1 jam. Ada saja dibahas, dan 90% aku lupa bahas apa. Penah sekali, bertemu dan sebentar. Ia membawa snek cukup banyak. Sepertinya dia niat banget, karena memang jauh hari ia merencanakan itu. Aku tahu ia sangat ingin bertemu denganku.

Tak sangka, ia bertemu dengan teman lamanya, mantannya sepertinya. Yang buat kecewa, dia sama sekali tidak mau masuk ke rumah (Kosan), sama sekali tidak menyapaku.

Tahu tidak, ternyata dialah jodoh temanku ini. Teman yang Nyaman, Nyambung, Asik dan tertawa terbahak di setiap akhir obrolan telepon.

Sadar juga sih, waktuku wmasih lama, masih 3 tahun kelulusanku. Sedang dia, nampak dari obrolan ingin segera melepas kesendiriannya. Meski ia tidak jujur, tapi aku tahu itu. Sepertinya perasan ini sudah terpaut.

Kami tidak pacaran, tidak Bernah jalan berdua. Tak pernah romantisan baik via telp maupun chat. 

Sampai ia kabarkan, ia segera menikah, keluarga saling kenal. Segera setelah kelulusan wanita itu. Bahkan ia masih saja ngobrol asik denganku tiga hari sebelum pernikahannya.

Sampai pada beberapa bulan pernikannya, ia kerja di luar kota, ia menelpon ku beberapa kali. Tidak ada pembahasan serius, juga aku menjaga jarak. Hanya sekedar menghargai, sebagai teman mungkin ada sesuatu yang penting atau butuh pendapat.

Sebisa mungkin aku menghindar, abai dan tidak angkat telp darinya. 

Lama waktu berlalu, yang tersisa tinggal chat tanya kabar dan dia yang memulai. Balas pun berhenti di satu balasan, 'kabar baik'.

Sampai lupa, apakah via chat atau telp. Tapi sepertinya chat. Wanita itu memarahiku, meminta agar tidak berhubungan. Aku juga sedih, apa salahku? 

Sekali dan terahir, dia menelpon, dengan santai berkata "maaf ngak pernah kabar²an, istriku marah". Aku sedikit bergidik, yah itulah temanku. Suka bercanda dan mudah mencairkan suasana.

Dengan lembut ku membalas 'dunia kota sudah berbeda, jangan lagi mencariku'. Dia mencariku' hanya saat bosen dengn pekerjaannya dan mencari waktu dan tempat jauh dari jangkauan istrinya. Aku tahu itu.

Hanya itu, ngak lebih dan aku tahu itu, tidak ada maksud lain. Aku yakin dia sayang istrinya. 

Tapi aku sadar, juga berjanji tidak lagi angkat telp dia. Dan dengan tegasku memintanya, jangan hubungi akau lagi. Dia mengerti, dan sampai di sini saja pertemanan kita.

Karena wanita itu sama sekali tidak menyukaiku, aku juga heran kenapa. Cemburu? Itu sudah pasti. Tapi bahkan dia tahu aku seperti apa, banyak mendengar tentangku dari dia sahabatku.

Andai dia mau berteman denganku, dunia simpel kok. Tapi inilah masa, kita tidak bisa memilih dan meminta orang sama di hari berikutnya.

Sudah lama berlalu. Sudah lupa dan biasa saja. Hanya ingin menuliskan saja. 

Anehnya, kasus seperti ini terjadi dua kali dalam hidupku di detik ini. 

Aku serasa hanya mengisi, menghibur waktu kosong seseorang. Mereka bertengkar dengan kekasihnya dan membuatku nyaman.

Dan kisah yang satunya, yang sekarang akan ku tuliskan lebih menyakitkan. 
Dia adalah tetangga dekat, juga bak keluarga. Dia pernah cerita, menggendongku dan kencing di pangkuannya. Kira-kira uasia terpaut 7/8 tahun. Dan baru-baru ini sangat dekat. Aku sudah menginjak SMA, kelas 2 kalau tidak salah.

Ia baru putus dengan pacarnya. Ia pergi jauh, menghibur diri dan terus menghubungiku. Meminta pendapatku di setiap keputusan yang ia ambil. 

Hari raya ia pulang, dan sesekali nongkrong di rumah. Tidak ngobrol denganku, tapi dengan kakak laki-lakiku. Kami hanya ngobrol via chat dan telp.

Ia hangat, dan menganggap aku adik tersayang. Akuoun demikian. Tapi semakin kesini, pembicaraan mulai serius, sampai pada using bahas pernikahan.

Masih ku ingat jelas, jawabku " Apa kata ibu, kita kan sudah seperti saudara, Ibumu juga ibuku". Aku memanggil ibunya "Ibu", karena selama dia sekolah SMK, aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumahnya.

Ibuku kerja, di kebun jauh dan bermalam. Jadi banyak tetangga yang simpati padaku. Ku ingat sepanjang masa SD ku, rambut ini tidak pernah sebahu. Selalu saja di potong oleh mama dia. 

Sebenarnya tidak banyak ku ingat lengan main bersama. Tidak ada yang dekat, duduk berdua dan semacamnya. Sepertinya memang benar tidak ada. 

Simpelnya, dia tahu banyak tentangku, sedang aku sebaliknya. Aku berusaha sok akrab dan sok merasa adik yang ingin manja.

Di usiaku kala itu, SMA adalah masa baper². Jujur dia yang memulai, mana tahu aku kalau dia pulang dari tempat kerjanya yg jauh. 

Waktu lebaran itu, takbir keliling, aku hendak minta di bonceng, tapi tiba-tiba mantannya datang. Dia maksa, dan akuoun disuruh mengalah dan menyuruhku dengan temannya.

Berawal dari ini, mulai renggang komunikasi, dia balikan. Padahal kami sudah mulai serius, atau hanya aku yang menganggap itu.

Suatu ketika, aku di maki dan makian yang menyakitkan oleh wanita itu. Skala sampai memanggilku berfoto ala pengemis dan nama hewan. Aku menagis, dan bertanya dimana salahku.

Penutup kidahku dengan kakak, ia menelpon ku, mantannya diam² membaca chatingan selama ini dan menghapus semua nya. Bahkan parahnya aku di blokir.

Dia jujur tanpa sisa. Meminta aku mengerti dan memaklumi. Aku diam. Dia tidak banyak bicara dan diam-diam balikan.

Setiap ku bertemu, canggung diantara kami begitu lekat. Hanya menyapaku saat di depan ibunya, menjadi sosok kakak yanng perhatian.

Aku tidak berharap dan bermimpi bersanding dengannya tapi kenapa serumit ini. Kenapa aku harus di benci wanita itu. Kenapa aku harus dihindari, di asingkan, kenapa?

Aku hanya tempat singgah ya? Setelah membuatku Nyaman, pergi lalu tak berupa.

Rindu, bukan berarti ada rasa suka. Tapi rindu ini bersih, ingin dengar suara dan melihat senyumnya. Kini senyumnya tidak penuh, kaku. Rasanya kasian melihat dia yang takut dengan istrinya. Tidak berani berpapasan denganku, dan berusaha menghindari ku.

Setelah itu, aku pergi jauh, memutuskan lanjut kuliah. Melupakan sakit hati, hinaan dan tatapan kejam wanita itu. Aku pergi.

Saturday, November 13, 2021

Kasih Tak Sampai (Cerpen)

Pernah menyukai seseorang?
Iya, dan baru teringat belum lama. Pemicunya gegara mendengar lagu melow. Berasa mengiring mengingatnya dan melintasi waktu wajahnya begitu jelas. 

Wajah itu hangat dengan senyumnya. Jika di ingat-ingat suka kala itu lebih ke kagum akan kebaikan dia. Dia mengajakku bertemu dengan tamu penting. Jangan ngebayangin tamu ala pejabat yah, ini sederhana hanya tamu wisata.

Tamu itu meminta di antar ke tempat wisata dan itu bawah laut. Cukup unik bagiku yang baru sekali mengenal kota. Benar-benar anak cupu. Siapa yang tidak bahagia di ajak dengan ringannya, aku orang baru dia kenal. 

Baru beberapa hari kenal, dan itu via chat efb. Aku ingat kala itu ia menjemputmu, tak memandang asing, nampak akrab dan bersahat. Mungkin karena memang pembawaan dia memang ramah pada semua. 

Tidak lama, setelah berbincang lama dengan tamunya, ia mengajakku ke tempat wisata yang tidak jauh dari tempat itu, lebih ramah, terbuka dan memang destinasi khas daerah ini. Sebenarnya masih ingin berlama memandanginya berbincang hangat dengan tamunya itu, aku kagum.

Tempat ini benar lebih indah, karena tidak hanya pasir dan laut yang kupandangi, tapi juga fasilitas wisata yang indah. Pasir putih, tangga alam. Tidak luas lokasinya, karena bak di Pagari gunung karang. 

Dari ketinggian, meski tak sempat turun ke bibir pantai, pemandangan ini cukup memanjakan mata, penyempurna. Mataku di arahkan pada pinggiran rumah penduduk sepanjang pinggiran pantai. Di tunjukkan padaku, disana ada masjid Agung, lalu RSUD, dst. Banyak yang ia cerita, tidak heran karena dia memang bisa di kata "pemandu wisata", dia cukup terkenal. 

Ada janji yang dia belum tepati, ada dan tidak aku tuntut. Di tempat tadi, di ketinggian itu ia menunjuk satu gunung. Tempat itu kita akan lebih luas melihat kota ini. Kutanyakan, 'Bisakah di jangkau motor?', Jawabnya 'Iya!'. Ia mengisyarakat dengan kalimat yang intinya ingin mengajakku kesana. 

Waktu itu sudah berlalu lama. Itu wajar kok, namanya juga dia putra daerah, tentu akan bercerita banyak dan menyenangkan orang baru sepertiku.

Perasaan kagum ini kala itu tidak menaruh banyak harap, aku yang belum begitu tahu apa itu perasaan suka, dan jarus bagaimana menyikapi rasa itu. 

Melewati masa, sesekali bertemu, sapa dan tidak lebih, aku minder. Andai saja lebih percaya diri, mampu bergaul dengan dunianya, pasti lebih dekat.

Duaniku dengannya hanya sepatas komentar di sosmed. Sesekali tanya kabar. Sampai pada dia Wisuda, sedang aku belum, ini memalukan. Disini tarik diri dari dunia ya, berhenti mencari tahu tentangnya, malu.

Oh iya tempat yang dia janjikan itu, gunung itu, aku sudah mendakinya, sering bak milik sendiri. Teringat dia, tidak apa, biar itu menjadi rahasia rasa. Bahwa rasa itu pernah ada. Sudah tidak ada harapan. Dia sudah tidak sendiri lagi.

Terimakasih, pernah mengenalnya. Merelakannya. Bahagia. Tidak lupa dan mengenangnya sebagai teman. Pernah kenal tidak dekat. 

Siapa yang tidak bahagia melihat orang baik mendapatkan pasangan hidup.

Aku masih belum mampu percaya diri tampil di depan umum. Berwawasan luas. Berpenampilan bagus. Belum wisuda. Belum bekerja, tidak punya kerampilan. Dan semua keterlambatan ku. 

Aku tertinggal jauh, hingga suara ini tidak bisa di dengar olehnya. 

Melepasmu dengan ikhlas. Menerima kalau aku kalah sebelum berusaha. Berusaha mengimbangi bakatmu, aku kalah.


Wednesday, June 23, 2021

Aku Menulis

Sadar menulis adalah aku
Dengan keterpaksaan dan kebutuhan tumpang tindih

Sadar tapi aku mengabaikan
Hingga waktu menghukumku

Terpuruk tanpa karya
Sendiri menikmati kebodohan

Entah ku hukum dengan apa raga ini
Seperti terkubur perlahan

Sakit, kebodohan ini menggerogoti pikiran
Tak habis, usia pun menghukumku

Baik, kutuang sakitku dalam tulisan ini
Hingga usia ini menghentikan rasa ini

Terimakasih hai rasa sakit

Wednesday, July 15, 2020

Cerpen Cowok Idaman yaaa


Cowok Idaman_yaaa

Menurut ikhwan nih kalau ada ahwat pasang status di facebook gini, “aku cari cowok yang suka makan pedes, tidak merokok, dan suka makan pete + jengkol” komennya kek gimana ?
          Kita cari tau satu persatu, bukan hanya sekedar suka atau tidak suka. Kita mengenal lima hukum islam (haram, halal, wajib, mubah dan makruh) yang harus melekat alias mengikat kita. Kata kunci pembahasan ini ialah hukum semua benda itu mubah (boleh) selama tidak ada dalil yang mengaharamkannya.
Kita mulai dari yang pertama “suka makan pedes”. Kamu suka ?, hanya ada dua jawan ya atau tidak. Alasannya itu yang perlu di ilmui, harus di ilmui. sebagai langkah awal kita akan mencari tau efek (hukum) yang ditimbukan kalau kita memakannya, kemudian manfaatnya. kenapa ?, mengerjakan sesuatu tanpa tahu hukumnya akan bahaya, contohnya lombok.
Manfaatnya memang banyak, tapi mengonsumsi makanan yang terlalu pedas dan terlalu sering juga biasa berbahaya bagi tuhuh. Bahaya lombok paling ringan itu kepedisan (mulut pedas). Bahaya selanjutnya dapat menyebabkan diare, gastritis (maag), meningkatkan gejala GERD atau dikenal dengan penyakit asam lambung di cirikan nyeri dan sensasi padas pada dada.
Manfaat lombok memang banyak. seperti mempercepat metabolisme tubuh, anti inflasi, melawan bakteri dan sel kanker, hingga membuat panjang umur.
Masih ada, yaitu menurunkan nafsu makan. Yang suka makan pedes pasti ngak terima karena bagi mereka justru kebalikannya. Sebenarnya masih ada lagi efeknya, tapi penenkannya disini ialah terlalu pedas dan sering. sejauh ini belum dengar makan pedes itu haram. yang pernah saya dengar itu bakso setan alias bakso super pedis. sudah kebayangkan pedisnya.
Hukumnya apa nih. hukumnya mubah bagi yang tidak ada penyakit rentan oleh makanan pedes, makruh saat makanan itu menyebabkan penyakit (lambung), karena sewaktu-waktu dapat menyebabkan masuk rumah sakit. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Alloh maha penyanyang kepadamu (TQS: 4 : 29).
Komentar kalian apa nih, pertanyaan di ulang “cari cowok yang suka makan pedes”. Cowok yang punya penyakit maag sudah pasti lewat, apa lagi penyakit asam lambung dan lainya. Jagan, jangan yah, bukankah kamu mau yang terbaik dan yang menurut Alloh baik buat kamu. Jangan sampe lombok jadi penghalangnya, karena setiap uacapan adalah do’a.
Pernyataan kedua “aku suka cowok yang tidak merokok”. Kalau pertanyaan ini aku yakin 99% akhwat sepakat. Maaf buat para perokok bukan bermaksud lain, bukankah mengaharapkan kebaikan itu boleh.
Jawaban mengapa pasti di tunggu buat kamu yang perokok. Ada jawaban begini, “aku tidak suka ayahku yang merokok, karena sering memarahi ibuku”. Aneh ya, dua hal yang beda tapi kebanyakan kasus menyatakan hubungan erat keduanya. Atau jawaban ini “aku tidak suka bau asap rokok”, pernyataan ini sudah pasti, soalnya hidung tidak pernah bohong.
          Dalam kasus rokok lebih banyak yang menghukumi haram. jangan marah dulu, kita cari ilmunya dulu. pertanyaan sebagai pegangan “ Apakah hukum menghisap rokok ? Apakah haram ataukah mahruh ? dan Apa hukum membeli dan memperdagangkannya:”
          Jawaban : Hukum rokok adalah haram, dan mengundang berbagai mudharot (bahaya) yang banyak. Alloh Ta’ala hanyalah membolehkan untuk umatnya yang baik (thoyyib), baik berupa makanan, minuman dan lainnya, dan mengharamkan berbagai hal yang buruk.
          Sebagai penjelas di katakan dalam (TQS; Al-A’raf : 157) “Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar, dan menghalalkan bagi mereka yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk”.  dapat juga di lihat dalam (TQS; Al-Maidah:4) “mereka menanyakan kepadamu apakah yang dihalalkan bagi mereka, ‘Dihalalkan bagimu yang baik-baik’”.
          Kesimpulannya, dihukumi apa nih ?, defenisi makruh “ perbuatan yang yang sebaiknya tidak dilakukan”, sedang Alloh Ta’ala mengharamkan segala hal yang buruk. Apakah merokok merupakan perbuatan mulia, sedang ia mengganggu lagi berpenyakit ?. Olehnya rokok dihukumi Haram.
          Pernyataan ke tiga, “aku cari cowok yang suka makan jengkol dan pete”. Bicara soal ini yang akan ada difikaran “bau” dan sebagian “enak”. Koki akan dipuji karena enak masakannya, Warung akan di kunjungi karena menunya. Makan jengkol dan pete sebagian orang sangat tidak suka, bahkan reaksinya sampai sakit kepala, muntah, dan parahnya tidak suka sama kamu (setelah makan).
Jengkol (Archidendro Pauciflorum), meski dapat melancarkan baung air besar dan dapat menyebabkan kesulitan buang air kecil yang disertai nyeri. Itu benar ya ?, dan untuk mengantisipasinya, baiknya diimbangi mengonsumsi air yang banyak.
Makan petai (fabaceae) secara berlebihan dapat mengganggu kesehatan ginjal. Dapat pula melancarkan buang air kecil, serta mencegah sembelit. Beda tipis ibatnya saling melengkapi.
Agaknya sulit agak sulit untuk kamu yang suka kedua makanan ini. Kita masuk menghukumi Jengkol dan Petai, lanjut.
Perhatikan kalimat ini, “Sebenarnya, islam tidak mengharamkan jenis makanan tersebut (jengkol dan petai)”. Makanan ini di identikkan dengan baunya yang khas dan tidak ramah terhadap orang didekatnya. 
Sekarang perhatikan hadis ini “Barang siapa yang memakan bawang putih atau bawang merah hendaknya menjauhi kita atau menjauhkan diri dari masjid kita dan sebaiknya tinggal di rumah” (HR. Bukhari).  
Akan tetapi permasalahan jengkol dan petai, yang kadang meninggalkan bau di mulut sama halnya dengan bawang merah dan bawang putih, dan durian. Tersebut dalam hadits nabi Muhammad SAW.
Dari abi sa’id al khurdy ketika penaklukan khaibar, nabi Muhammad SAW bersabda: ‘ siapa yang memakan dari pohon bau ini (bawang merah dan bawang putih) maka janganlah mendekati masjid.’ Orang-orang pun langsung bercerita- cerita tentang sabda nabi ini, mereka mengatakan: ‘Diharamkan, diharamkan.’ Hingga sampailah isu ini ke Rosululloh SAW, maka beliau bersabda: “ wahai umat manusia, sesungguhnya saya tidak mengharamkan apa yang telah Alloh halalkan, akan tetapi pohon ini, aku tidak suka baunya.”
Nah, buat para pecinta jengkol dan petai tidak usah khawatir, meski dihukumi makruh dengan alasan baunya memberi mudharot kepada orang lain karena nabi  sangat menganjurkan agar selalu menjaga kenyamanan dan jangan mengganggu orang lain.
Mengenai tidak dibolehkan bagi mereka yang memakannya untuk masuk masjid bila masih tercium baunya yang dapat menganggu kecuali bila sudah tidak tercium baunya maka boleh. Jadi pastikan baunya sudah hilang, dengan segala cara.
Penulis jadi pengen mengulagi pernyataan di awal “aku cari cowok yang suka makan pedes, tidak merokok, dan suka makan pete dan jengkol”. Pendapat, sah-sah saja semuanya baik-baik saja, tapi mengenai jengkol + petai sepertinya kalaupun bisa dipertimbangin soalnya faham baunya memang menyengat. *makanan pedas hukmnya bisa jadi makruh, **merokok, haram., *** jengkol dan Petai, makruh.

Sri Lestari






Tuesday, July 23, 2019

Trek Bimbingan Proposal


Trek Bimbingan Proposal
( pribadi )

Skripsi adalah tugas sekaligus mata kulian terahir yang menjadi syarat kelulusan. Langkah awal penyusunan skripsi ialah mengajuan judul kepada pembing akademik (PA). Pembimbing akademik jauh sudah ditentukan pada semester awal perkuliahan.  Berikut kemungkinan-kemungkinan yang menjadi kendala mahasiswa lambat penelitian.

1.      Pengajuan judul
Dalam pengajuan judul hal yang pertama jadi bahasan adalah dua poin yaitu variabel terikat dan variabel bebasnya. Selanjutnya judul dibawa kepada pembimbing untuk dimintai saran dan sekaligus alasan pengambilan judul.
Terkait setuju dan tidaknya variabel yang diambil sebgai patokan judul lebih besarnya dilihat dari kepercayaan masiswa dalam mengambil keputusan. Hasil putusan disini berupa judul yang lengkap. Judul yang terdiri dari dua variabel utama yang kadang dapat disusul dengan memperjelas variabel respon bahkan adapula yang meneliti mencari variabel moderatornya. Setelah selesai disepakati maka judul tersebut akan di laporkan ke prodi untuk dirapatkan baik itu dari segi keterbaruan, kebutuhan dan pembeda.
Judul yang keluar dari prodi besar kemungkinan judul yang utama atau nomor satu saat kita mengajukan judul yang tadinya mengajukan tiga judul. Setelah judul keluar ditentukanlah pembimbing dua yang biasanya disesuaikan dengan pengalaman dosen atas penelitian yang terkait  sebelumnya atau kecocokan mahasiswa terhadap dosen. Kecocokan disini yang dimaksud ialah dosen yang jeli atau galak biasanya mengambil mahasiswa yang pintar alias cekatan. Kecocokan lainnya mahasiswa yang pendiam biasanya mendapat pembimbing dosen yang sabar. Kemungkinan diatas itu hanya hal yang biasa namun belum tentu demikian karena ada satu faktor yang menjadi beda dan disini mengenai mahasiswa yang lelet.
Mahasiswa yang lelet di cirikan lambat konsul judul, lambat ditentukannya pembimbing dua atau ada sedikit masalah seperti pembimbing yang di gonta ganti. Kasus gonta ganti pembimbing disini sangat memperlambat perkembangan mahasiswa dalam maju proposal. Efek lambatnya penentuan pembimbing dua ialah kemungkinan berubahnya judul penelitian baik itu dari populasi penelitian sampai  indikator penelitian (variabel terikat) itu sendiri.

2.      Konsultasi
Judul sudah fiks !, langkah selanjutnya membuat bab 1 yakni latar belakang. Pada bagian ini kebanyakan bimbingan yang memakan waktu banyak. Benar ada yang cepat namun itu hanya sebagian saja yang biasanya  memiliki motivasi yang besar. Ada tips yang perlu jadi dasar yang kuat untuk melewati masa konsul ini, pertama jagan jadi bersifat indifidualis. Orang indifidualis identik dengan  sifat sombong merasa bisa tanpa teman yang lain. Sifat ini masuk dalam sifat istidraj sangat bahaya karna dapat mematikan hati. Lalu, bagimana baiknya.
     Kedua, targetkan jadwal bimbingan rutin minimal sekali sepekan di tambah sharing dengan tim baik itu geng, kelompok belarjar, kelompok satu PA, atau kelompok yang variabel penelitiannya sama. Artinya dalam satu pekan itu minimal 3 kali tukar pikiran dan revisi proposal. Hal yang tidak boleh di sepelekan ialah adap dalam segala hal terkhusus pada saat konsul dengan dosen. Kita tau bahwa adap itu posisinya diatas ilmu, karena sebab terhalangnya ilmu ialah kurangnya adap terhadap guru atau dosen. Adap atau mempelajari petunjuk adalah hal yang sangat penting. Semua dosen sangat menjunjung adap dan terkhusus menilai mahasiswa dari sini. Apa saja itu diantaranya tepat janji dan diutamakan lebih awal dari perjanjian, duduk dan tatapan yang antusias jagan tampakkan masalah, banyak mengeluh, suka menyela saran/komentar dosen. Boleh menyela sedikit jika memang sangat penting selebihnya biarlah berproses karna biasanya di pertengahan dosen akan menyadari kekeliruannya dan banyak menemukan ide yang lebih baik dari sebelumnya karena kekuatan adap tadi.
     Ketiga, temukan motivasi pribadimu. Benar motivasi itu abstrak namun bukan berarti tidak bisa di visualisasikan. Orang yang cerdas akan selalu berbeda dengan lainnya bahkan dibedakan oleh banyak orang. Bagaimana menemukan motivasi dan mengenggam eratnya agar tetap terpatri di hati dan indra kita ?, salah satunya ialah buat bagan/mindmap di dalam kamar pastikan jelas dan menarik. Satu lagi selain sesuatu yang berwarna menjadi titik fokus juga satu hal yang harus di coba ialah pajang foto. Foto orang tua dan foto wisuda kita (meski belum), ini akan menjadi pengingat ada wajah disana yang tersenyum.

3.      Maju proposal
Proposal disini terdiri dari tiga bab. Bab satu latar belakang, bab dua kajian pustaka dan bab tiga metode penelitian. Kita anggap semua sudah selesai masa konsultasi, sisa kesiapan mental dan penguasaan materi yang dipermantap. Sedikit penjagaan mengenai isi proposal semuanya telah di tengahi yaitu pendapat pembimbing satu dan pembimbing dua. Pembimbing satu adalah penentu semua isi dan format isi, laporkan draf isi dan putusan yang di ambil atas pendapat pembing dua harus disetujui oleh pembimbing satu. Namun jika ada masalah perbedaan keduanya yang menyentuh konsep seperti kerangka pikir yang perlu kita lakukan ialah menghadap ke ketua prodi atau dosen lainnya.
Masalah diatas merupakan pembelajaran buat pribadi karna telah malakukan kesalahan fatal disebabkan mengambil pendapat pembimbing dua yang hasil putusan pengambilan konsep kerangka pikir tidak disodorkan ke pembimbing satu. Seharusnya mendiskusikan lebih mengenai ini dan meminta dukungan argumen. Kesalahan diatas berujung pada pengunduran diri pembimbing satu. Kesalah ini merupakan kesalahan fatal yang semua orang akan tetap menyimpulkan saya tetap salah. Diluar alasan mengapa saya memilih pendapat pembimbing dua tidak perlu didetaili disini namun ingat saran saya diatas jika mendapati masalah diatas.

Kelanjutan penyelesaian masalah fatal tadi menjadi hal baru buat saya dan menjadi kisah yang tidak saya lupakan yang membuat penyelasan mendalam karna ini tentang adap.
·         Pembing satu (mengundurkan diri) digantikan oleh pembimbing dua
·         Pembimbing dua digantikan dengan penguji satu
·         Penguji 1 digantikan dosen lain (tidak lain ketua prodi)
·         Penguji 2 masih tetap
Tersisa dua dosen aktif (selain pembing satu yang mengundurkan diri) yang nantinya menjadi validator instrumen penelitian saya.


Majene, 22 Juli 2019
                                                                                         

                                                                                          Sri Lestari 

“JURNALIS YANG SAYA TAHU”


JURNALIS YANG SAYA TAHU”
By Sri lestari
Mengumpulkan data dan menyuarakan kebenaran kepada mereka yang perlu tahu, itu tugas jurnalis. Mendengar, melihat dan menulis suatu komponen utama seorang untuk mengemas informasi pertama. Lanjut selangkah kita temui pemberitaan dalam bentuk lisan dalam media TV dan media wacana baik itu koran,majalah atau buku-buku pembelajaran.
Di era sekarang ini penyebaran informasi begitu cepat, semua orang bahkan bisa meniru bahkan berlaku layaknya jurnalis profesional. Bagaimana dengan seorang dengan bakatnya kemudian tidak memiliki nama (instansi) biasanya kita temukan di akun blog, tentu pembaca akan ragu dan hanya menjadi karya yang hampir tidak di anggap bahkan dapat menimbulkan cekcok yang disebabkan opini yang salah.  Dalam profesi Jurnalis sendiri meniliki kode etik seperti  (1) tidak boleh menerima suap dari siapapun (2) tidak boleh menjiplak karya/plagiarisme (3) tidak boleh membuka identitas rahasia narasumber atau semacamnya (4) tidak boleh membuat informasi bohong. Artinya dalam kegiatan baik itu bentuk pemberitaan media suara/vidio maupun media tertulis semua terkena sangsi kode etik yang dimana masih banyak orang tidak mengetahui ini.

Profesi jurnalis sendiri ada beragam, serta ada beberapa penyebutan  untuk  jurnalis. Ada namanya reporter yang identik dengan pemberitaan secara langsung dari lokasi maupun sedang wawancara dengan narasumber, begitupun wartawan. Ada koponen utama di balik jurnalis yang memiliki poin utama ialah si editor, Editorlah yang menciptakan pengambaran menarik dan tidaknya pemberitaan yang di sajikan. Setiap lembaga ataupun media group misal (Tvone, MNCgroup, cannal Radio)  ataupun media online tentu memiliki paket jurnalis masing-masing memiliki peran penting untuk menunjang kualitas informasi yang disajikan. Disisi lain dari kualitas serta persaingan media memiliki dampak positif yang manfaatnya kini kita rasakan. Berkat liputan seorang tim jurnalis jeritan penderitaan masyarakat kini tersuarakan sampai ke segala penjuru sehingga kita tahu begitupun pihak pemerintah di tempat dapat memberikan solusi dan cepat di tangani. Dengan tangan-tangan jurnalis pula opini, dan fakta di gambarkan jelas dengan tidak melupakan suber dari pada informasi khususnya para penulis.

Tulisan ini saya buat dalam rangka syarat mengikuti pelatihan jurnalis. tulisan ini sudah cukup lama saya simpan namun setiap karya akan saya abadikan. dan intinya aku gagal jadi wartawan. hehee karena, saat usai pelatihan ada informasi lewat whatsUp dan aku kala itu belum punya. akhirnya aku gugur. ..selamat yaaa aku lantas tertawa, ini konyol sekali.

Aku berhenti mengangumimu (lelaki berambut gondrong)

Aku berhenti mengangumimu (lelaki berambut gondrong)

            Kaca jendela ini berdebu lagi dan lagi. Debu itu menghalagi pandanganku pada sosok  berambut gondrong itu yang selama ini ku kagumi. Bagaimana tidak, tidak lagi kudengar keberadaanya, aktifitasnya yang mengecas kekagumanku padanya karena kesibukan yang menjauhakanku darinya. Meski sesekali debu itu aku lap kembali dan kekagumanku kini semakin melebarkan senyumku. Kala itu aku mendapatinya sedang membawakan sebuah materi yang sifatnya umum di sebuah pelataran jalan yang di apit stadion dengan sekolah SMP, bahagia, haru mewarnai susasana hatiku karna bisa melihatnya lagi setelah sekian lamanya tidak ku temui wajah itu. Ku ingat pertama kali ku menagkap wajah berambut gondorong itu dengan mata tanpa dimensi media di sebuah lembaga pelatihan dasar jurnalistik yang diadakan kampus. Hari itu jatuh pada hari ke dua pelatihan jurnalitik dasar dan dia membawakan materi mengenai sejumlah peralatan yang di gunakan saat dilapangan.
Aku menyimak dengan saksama memandanginya penuh dengan harap matanya mengarah ke arahku namun aku tidak ingin mataku jatuh tepat dimatanya. karena aku malu dengan keadaanku yang mengaku menganguminya namun sampai sejauh ini tidak menyentuh dunia yang ia geluti. Aku ingat saat di bangku SMA tepatnya kelas tiga, kala itu guru memberi gambaran setiap jurusan yang nanti kami ambil di jenjang perkuliahan. Satu persatu mengutaran jurusan yang teman-temanku ingin ambil, ada yang ingin mengambil teknik pertanian, pertambangan, keagamaan dan tiba pertantyaan itu di tujukan padaku sontak mataku terbelalak dan tidak tahu mau jawab apa. Diam dan merenung, mengingat dan memilah sampai pada kata wartawan aku mendongak lalu ku utarakan, bagaimana dengan jurusan wartawan dan guruku menjabarkan seperti apa itu wartawan. 
            Tadi aku diam sejenak yah waktu sebelum menjawab wartawan, karna aku sangat pendiam dan sedikit cerwet hanya pada teman laki-laki. Alasan lainku diam karena tidak sedikitpun niatku untuk lanjut kuliah kala itu. karna orang tuaku jauh hari mengatakan “angkat tangan” dan kata itu sampai sekarangpun masi menjadi kenangan termahal yang kumiliki. Karna kata itu justru mendongkrak keputusasaanku dan hanya beralas nekat aku memulainya sampai pada saat ini aku duduk di bangku sebuah Universitas Negri.
Mengangumi itu berat, butuh pembuktian. Dan untuk membuktikan bahwa aku menganguminya ku putuskan aku membaca buku terbarunya kala itu yang berjudul “Ekspedisi Garis depan  Nusantara, Jurnal di Bawah Layar “. meski aku harus meminjam pada temanku yang ikut dalam pelatihan itu. Buku itu di bagikan cuma-cuma sebanyak tiga buah, dan temanku beruntung karna merupakan salah satunya. Seketika itu pula kumeminjam buku tersebut dari temanku sebut saja namanya lilis. Lilis orangnya cerewet tapi baik, mudah bergaul, dan pastinya oranagnya lumayan PD. Dari sifat PDnya itulah membuatku merasa gagal karna buku itu di dapatnya, iya aktif bertanya saat  sosok yang kukagumi itu menjelaskan materi. Salah satu pertanyaan yang di lontarkan lilis temanku itu dan di jawab oleh pemateri kekangumanku semakin bertambah, ini pertanyaan dan jawabannya simak dengan baik;
Lilis “kamera apa yang paling bagus di gunakan ka’, apa seperti yang kaka pake” ?
Pemateri “ ini pertanyaan yang aku tidak suka, menyebut merek sebuah alat” bla. ..bla alasan lainnya.
Penekanan dari itu, aku memahami akan mnegsingkronkan_melanjutkan atas apa yang sudah kita miliki. Maksudnya apa, ia pertama kali memiliki sebuah kamera di kasi oleh teman baiknya dengan satu lensa saja, dan kemudian ia membeli lensa yang lebih bagus lagi. Sampai ku lihat tiga atau empat lensa kala itu di meja. Lanjutnya lagi, semua kamera bagus tinggal penemppatan penggunaannya saja, terlebih yang saya miliki tidak mungkin saya membeli lensa yang berbeda dengan merk kamera yang sudah saya pegang selama ini. Sampai pada ku lihat mukanya menegang ekspresi greget, hal semacam ini bukan sebuah mainan yang harganya kecil, hasil karya yang di peroleh dari kamera ini tidak kalah dari kamera lainnya meski ada perbedaanya hanya sedikit. Semuanya benar, hatiku mengakuinya. Kita kadang tidak sadar selalu kebiasaan membandingkan, mengonta-ganti apapun itu tidaklah akan menghasilkan karya atau manfaat yang maksimal dan berkelanjutan.

Sekali, dua dan terus menerus ku dengar rentetan aktifitasnya dan karya-karyanya baik dalam bentuk hard skill dan soft skillnya justru semakin malu dan merasa tidak pantas menganguminya. Ini aneh dan tidak beralasan. Aku tidak tau sejak kapan aku suka dengan laki-laki berambut gondrong, tiap kali aku menjuampai sosok-sosok tersebut mataku melihat dengan cermat lalu dalam hati _waah ganteng.  Akkkhhh kekangumanku berawal dari hal ini kemudian takjub dengan sosoknya, sampai waktu ini menyeret rasa itu jauh sejauh-jauhnya. Saat ku langkahkan kakiku mendekat penglihatanku buram, kaca jendela itu bedebu kembali dan kuputuskan Aku berhenti menganguminya. Aku menyerah aku  belum mampu masuk ke dunianya. Lama. .. lama aku memikirkan ini lewat celah mana aku menemuinya karna pelatihan dasar jurnalistik kala itu tidak menarikku kedalamnya. Apa aku lewat traveling seperti dia,menulis, atau aktif di dunia penggerak literasi, atau hanya penikmat saja, membaca buku dan duduk diam menanti keajaiban dia menemuiku. ooh betapa berantakannya aku ini. Tidak satu pun celah-celah itu mampu aku lewati. Ku putuskan diam, duduk membaca dan memaksakan tangan ini mengetik hayalan seperti masih di SMA dua tahun yang lalu yakni menulis diary_curhat. Hanya ini yang mampu ku lakukan dan mencoba mengikhlaskan semua alasan aku mengangumi sosok berambut gondrong itu. Hati maafkan aku yang tidak mampu menjadi sosok itu, dan menemukan  apa sebenarnya kelebihanmu_cita-citaku.