Sunday, November 14, 2021

Nyaman, tapi tak berjodoh

Pernah nyaman, cukup lama. Tidak lebih dari teman. Dia sangat menyukai ku, maksudnya aku asik di ajak ngobrol. Bahasa akrabnya Nyambung terus. Bukan hanya dia sih, beberapa teman cowokku mengakuinya.

Memang, aku berusaha menghibur dan mengisi luangnya. Tidak pernah berharap banyak, karena tak benar sedang mencari pasangan.

Kalau luang, dan tidak ada iklan sekali nelp itu minimal 1 jam. Ada saja dibahas, dan 90% aku lupa bahas apa. Penah sekali, bertemu dan sebentar. Ia membawa snek cukup banyak. Sepertinya dia niat banget, karena memang jauh hari ia merencanakan itu. Aku tahu ia sangat ingin bertemu denganku.

Tak sangka, ia bertemu dengan teman lamanya, mantannya sepertinya. Yang buat kecewa, dia sama sekali tidak mau masuk ke rumah (Kosan), sama sekali tidak menyapaku.

Tahu tidak, ternyata dialah jodoh temanku ini. Teman yang Nyaman, Nyambung, Asik dan tertawa terbahak di setiap akhir obrolan telepon.

Sadar juga sih, waktuku wmasih lama, masih 3 tahun kelulusanku. Sedang dia, nampak dari obrolan ingin segera melepas kesendiriannya. Meski ia tidak jujur, tapi aku tahu itu. Sepertinya perasan ini sudah terpaut.

Kami tidak pacaran, tidak Bernah jalan berdua. Tak pernah romantisan baik via telp maupun chat. 

Sampai ia kabarkan, ia segera menikah, keluarga saling kenal. Segera setelah kelulusan wanita itu. Bahkan ia masih saja ngobrol asik denganku tiga hari sebelum pernikahannya.

Sampai pada beberapa bulan pernikannya, ia kerja di luar kota, ia menelpon ku beberapa kali. Tidak ada pembahasan serius, juga aku menjaga jarak. Hanya sekedar menghargai, sebagai teman mungkin ada sesuatu yang penting atau butuh pendapat.

Sebisa mungkin aku menghindar, abai dan tidak angkat telp darinya. 

Lama waktu berlalu, yang tersisa tinggal chat tanya kabar dan dia yang memulai. Balas pun berhenti di satu balasan, 'kabar baik'.

Sampai lupa, apakah via chat atau telp. Tapi sepertinya chat. Wanita itu memarahiku, meminta agar tidak berhubungan. Aku juga sedih, apa salahku? 

Sekali dan terahir, dia menelpon, dengan santai berkata "maaf ngak pernah kabar²an, istriku marah". Aku sedikit bergidik, yah itulah temanku. Suka bercanda dan mudah mencairkan suasana.

Dengan lembut ku membalas 'dunia kota sudah berbeda, jangan lagi mencariku'. Dia mencariku' hanya saat bosen dengn pekerjaannya dan mencari waktu dan tempat jauh dari jangkauan istrinya. Aku tahu itu.

Hanya itu, ngak lebih dan aku tahu itu, tidak ada maksud lain. Aku yakin dia sayang istrinya. 

Tapi aku sadar, juga berjanji tidak lagi angkat telp dia. Dan dengan tegasku memintanya, jangan hubungi akau lagi. Dia mengerti, dan sampai di sini saja pertemanan kita.

Karena wanita itu sama sekali tidak menyukaiku, aku juga heran kenapa. Cemburu? Itu sudah pasti. Tapi bahkan dia tahu aku seperti apa, banyak mendengar tentangku dari dia sahabatku.

Andai dia mau berteman denganku, dunia simpel kok. Tapi inilah masa, kita tidak bisa memilih dan meminta orang sama di hari berikutnya.

Sudah lama berlalu. Sudah lupa dan biasa saja. Hanya ingin menuliskan saja. 

Anehnya, kasus seperti ini terjadi dua kali dalam hidupku di detik ini. 

Aku serasa hanya mengisi, menghibur waktu kosong seseorang. Mereka bertengkar dengan kekasihnya dan membuatku nyaman.

Dan kisah yang satunya, yang sekarang akan ku tuliskan lebih menyakitkan. 
Dia adalah tetangga dekat, juga bak keluarga. Dia pernah cerita, menggendongku dan kencing di pangkuannya. Kira-kira uasia terpaut 7/8 tahun. Dan baru-baru ini sangat dekat. Aku sudah menginjak SMA, kelas 2 kalau tidak salah.

Ia baru putus dengan pacarnya. Ia pergi jauh, menghibur diri dan terus menghubungiku. Meminta pendapatku di setiap keputusan yang ia ambil. 

Hari raya ia pulang, dan sesekali nongkrong di rumah. Tidak ngobrol denganku, tapi dengan kakak laki-lakiku. Kami hanya ngobrol via chat dan telp.

Ia hangat, dan menganggap aku adik tersayang. Akuoun demikian. Tapi semakin kesini, pembicaraan mulai serius, sampai pada using bahas pernikahan.

Masih ku ingat jelas, jawabku " Apa kata ibu, kita kan sudah seperti saudara, Ibumu juga ibuku". Aku memanggil ibunya "Ibu", karena selama dia sekolah SMK, aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumahnya.

Ibuku kerja, di kebun jauh dan bermalam. Jadi banyak tetangga yang simpati padaku. Ku ingat sepanjang masa SD ku, rambut ini tidak pernah sebahu. Selalu saja di potong oleh mama dia. 

Sebenarnya tidak banyak ku ingat lengan main bersama. Tidak ada yang dekat, duduk berdua dan semacamnya. Sepertinya memang benar tidak ada. 

Simpelnya, dia tahu banyak tentangku, sedang aku sebaliknya. Aku berusaha sok akrab dan sok merasa adik yang ingin manja.

Di usiaku kala itu, SMA adalah masa baper². Jujur dia yang memulai, mana tahu aku kalau dia pulang dari tempat kerjanya yg jauh. 

Waktu lebaran itu, takbir keliling, aku hendak minta di bonceng, tapi tiba-tiba mantannya datang. Dia maksa, dan akuoun disuruh mengalah dan menyuruhku dengan temannya.

Berawal dari ini, mulai renggang komunikasi, dia balikan. Padahal kami sudah mulai serius, atau hanya aku yang menganggap itu.

Suatu ketika, aku di maki dan makian yang menyakitkan oleh wanita itu. Skala sampai memanggilku berfoto ala pengemis dan nama hewan. Aku menagis, dan bertanya dimana salahku.

Penutup kidahku dengan kakak, ia menelpon ku, mantannya diam² membaca chatingan selama ini dan menghapus semua nya. Bahkan parahnya aku di blokir.

Dia jujur tanpa sisa. Meminta aku mengerti dan memaklumi. Aku diam. Dia tidak banyak bicara dan diam-diam balikan.

Setiap ku bertemu, canggung diantara kami begitu lekat. Hanya menyapaku saat di depan ibunya, menjadi sosok kakak yanng perhatian.

Aku tidak berharap dan bermimpi bersanding dengannya tapi kenapa serumit ini. Kenapa aku harus di benci wanita itu. Kenapa aku harus dihindari, di asingkan, kenapa?

Aku hanya tempat singgah ya? Setelah membuatku Nyaman, pergi lalu tak berupa.

Rindu, bukan berarti ada rasa suka. Tapi rindu ini bersih, ingin dengar suara dan melihat senyumnya. Kini senyumnya tidak penuh, kaku. Rasanya kasian melihat dia yang takut dengan istrinya. Tidak berani berpapasan denganku, dan berusaha menghindari ku.

Setelah itu, aku pergi jauh, memutuskan lanjut kuliah. Melupakan sakit hati, hinaan dan tatapan kejam wanita itu. Aku pergi.

Saturday, November 13, 2021

Kasih Tak Sampai (Cerpen)

Pernah menyukai seseorang?
Iya, dan baru teringat belum lama. Pemicunya gegara mendengar lagu melow. Berasa mengiring mengingatnya dan melintasi waktu wajahnya begitu jelas. 

Wajah itu hangat dengan senyumnya. Jika di ingat-ingat suka kala itu lebih ke kagum akan kebaikan dia. Dia mengajakku bertemu dengan tamu penting. Jangan ngebayangin tamu ala pejabat yah, ini sederhana hanya tamu wisata.

Tamu itu meminta di antar ke tempat wisata dan itu bawah laut. Cukup unik bagiku yang baru sekali mengenal kota. Benar-benar anak cupu. Siapa yang tidak bahagia di ajak dengan ringannya, aku orang baru dia kenal. 

Baru beberapa hari kenal, dan itu via chat efb. Aku ingat kala itu ia menjemputmu, tak memandang asing, nampak akrab dan bersahat. Mungkin karena memang pembawaan dia memang ramah pada semua. 

Tidak lama, setelah berbincang lama dengan tamunya, ia mengajakku ke tempat wisata yang tidak jauh dari tempat itu, lebih ramah, terbuka dan memang destinasi khas daerah ini. Sebenarnya masih ingin berlama memandanginya berbincang hangat dengan tamunya itu, aku kagum.

Tempat ini benar lebih indah, karena tidak hanya pasir dan laut yang kupandangi, tapi juga fasilitas wisata yang indah. Pasir putih, tangga alam. Tidak luas lokasinya, karena bak di Pagari gunung karang. 

Dari ketinggian, meski tak sempat turun ke bibir pantai, pemandangan ini cukup memanjakan mata, penyempurna. Mataku di arahkan pada pinggiran rumah penduduk sepanjang pinggiran pantai. Di tunjukkan padaku, disana ada masjid Agung, lalu RSUD, dst. Banyak yang ia cerita, tidak heran karena dia memang bisa di kata "pemandu wisata", dia cukup terkenal. 

Ada janji yang dia belum tepati, ada dan tidak aku tuntut. Di tempat tadi, di ketinggian itu ia menunjuk satu gunung. Tempat itu kita akan lebih luas melihat kota ini. Kutanyakan, 'Bisakah di jangkau motor?', Jawabnya 'Iya!'. Ia mengisyarakat dengan kalimat yang intinya ingin mengajakku kesana. 

Waktu itu sudah berlalu lama. Itu wajar kok, namanya juga dia putra daerah, tentu akan bercerita banyak dan menyenangkan orang baru sepertiku.

Perasaan kagum ini kala itu tidak menaruh banyak harap, aku yang belum begitu tahu apa itu perasaan suka, dan jarus bagaimana menyikapi rasa itu. 

Melewati masa, sesekali bertemu, sapa dan tidak lebih, aku minder. Andai saja lebih percaya diri, mampu bergaul dengan dunianya, pasti lebih dekat.

Duaniku dengannya hanya sepatas komentar di sosmed. Sesekali tanya kabar. Sampai pada dia Wisuda, sedang aku belum, ini memalukan. Disini tarik diri dari dunia ya, berhenti mencari tahu tentangnya, malu.

Oh iya tempat yang dia janjikan itu, gunung itu, aku sudah mendakinya, sering bak milik sendiri. Teringat dia, tidak apa, biar itu menjadi rahasia rasa. Bahwa rasa itu pernah ada. Sudah tidak ada harapan. Dia sudah tidak sendiri lagi.

Terimakasih, pernah mengenalnya. Merelakannya. Bahagia. Tidak lupa dan mengenangnya sebagai teman. Pernah kenal tidak dekat. 

Siapa yang tidak bahagia melihat orang baik mendapatkan pasangan hidup.

Aku masih belum mampu percaya diri tampil di depan umum. Berwawasan luas. Berpenampilan bagus. Belum wisuda. Belum bekerja, tidak punya kerampilan. Dan semua keterlambatan ku. 

Aku tertinggal jauh, hingga suara ini tidak bisa di dengar olehnya. 

Melepasmu dengan ikhlas. Menerima kalau aku kalah sebelum berusaha. Berusaha mengimbangi bakatmu, aku kalah.