"kataku berpisah"
Kata berpisah bukanlah hal menyedihkan
Kata perpisahan belum tentu tidak lagi jumpa
Katakan kita berpisah di sini
Katakan perpisahan ini untuk berbenah lebih baik
Aku ingin berpisah denganmu
Aku menginginkan perpisahan karna aku takut
Aku katakan ini tidak perlu meminta persetujuanmu
Datanglah setelah kau sudah meminta dalam malammu
Datanglah saat kau telah melupakan rasa ini
Datanglah saat dimana rasamu berubah menjadi wujud cinta-Nya
Pergilah perangi dosa kesalahanmu, akupun
Saat kau sadar, harapku pilihlah sosok wanita yang jauh dariku
Aku tidak layak, karna aku punya noda
Kata itu "pacaran".. .
Saturday, June 2, 2018
"kataku Pulang"
"Pulang"
Kata itu bermakna dalam, khususnya seorang anak haus kasih sayang dari
orang tuanya. Anak rantau kerja, sekolah, kuliah yang waktu pulangnya di
tentukan oleh kalender. Bahagia benar bahagia, tapi tahukan saat bahagia
duduk bersama dengan ketidak harmonisan antar anggota keluarga rasanya
keruh. Aku dan kakak ku, bukan hanya satu tapi lima yang kesemuanya berbeda
dalam segala hal. Kakak pertma sifat kerasnya dalam fersi diam, bersua
ketika menyalahkan dan hal itu menjurus pada seorang ibu yang ter CAP dalam
hatinya tidak mampu memenej segalanya. Ekonomi keluarga, sikap anak-anaknya
yg disini ke enam adiknya. Kakak ke duaku sama halnya pendiam, keras namun
masih lebih besar kepeduliannya pada adik-adiknya dan besar pengorbanan
untuk orang tuaku. Tidak pelit namun teliti kesannya menguji dan memaksa
situasi sehatusnya begini ia sudah cukup lelah melihat ketidak tertatanya
semua hal. Rumah khususnya dengan sekian lamanya dan begitu banayaknya
hasil panen tidak berdampak membaiknya rumah. Usaha strategi ia susun rapi,
denah rumah, bahan-bahan yang yang sudah tersedia, mencatat bahan dasar
untuk rumah sampai kekurangan dana yang di butuhkan. Sejauh hari ini sudah
berdiri pondasi yang denahnya hanya ukuran 2 kamar, cukup kecil namun
inilah kemampuan yang niatnya hanya untuk orang tua. Sampai suatu
kesimpulan menunggu dana sebesar 5juta rumah sudah berdiri. Hari berganti
bulan uang belum jua cukup dan bersama itu kakak ke limaku merencanakan
pelamaran, dana yg tadi di urungkan untuk berdirinya rumah.
Kakak ke tigaku cewek, yang sebelumnya dua-duanya cowok. Ia sudah
berkeluarga dua anak. Kesehariannya kerja jadi guru dan suaminya kerja
tani, mulai dari tanam padi, kadang semangka, pernah sekali melon sampai
mendompeng sawah ia pun lakoni. Kakakku ini cukup sayang pada adik-adiknya,
sabar dalam bentuk cerewet melihat kelakuan kami. Kepeduliannya terhadap
keluarga begitu kompleks, segi ekonomi saat berlebih cukup, saat kurang
bahan pangan sederhana jadi identitasnya sampai pada tenaga khisusnya olah
dapur ia turun tangan. Semua ia yang mengambil peran utama ibu di dapaur.
Subscribe to:
Comments (Atom)