Saturday, November 13, 2021

Kasih Tak Sampai (Cerpen)

Pernah menyukai seseorang?
Iya, dan baru teringat belum lama. Pemicunya gegara mendengar lagu melow. Berasa mengiring mengingatnya dan melintasi waktu wajahnya begitu jelas. 

Wajah itu hangat dengan senyumnya. Jika di ingat-ingat suka kala itu lebih ke kagum akan kebaikan dia. Dia mengajakku bertemu dengan tamu penting. Jangan ngebayangin tamu ala pejabat yah, ini sederhana hanya tamu wisata.

Tamu itu meminta di antar ke tempat wisata dan itu bawah laut. Cukup unik bagiku yang baru sekali mengenal kota. Benar-benar anak cupu. Siapa yang tidak bahagia di ajak dengan ringannya, aku orang baru dia kenal. 

Baru beberapa hari kenal, dan itu via chat efb. Aku ingat kala itu ia menjemputmu, tak memandang asing, nampak akrab dan bersahat. Mungkin karena memang pembawaan dia memang ramah pada semua. 

Tidak lama, setelah berbincang lama dengan tamunya, ia mengajakku ke tempat wisata yang tidak jauh dari tempat itu, lebih ramah, terbuka dan memang destinasi khas daerah ini. Sebenarnya masih ingin berlama memandanginya berbincang hangat dengan tamunya itu, aku kagum.

Tempat ini benar lebih indah, karena tidak hanya pasir dan laut yang kupandangi, tapi juga fasilitas wisata yang indah. Pasir putih, tangga alam. Tidak luas lokasinya, karena bak di Pagari gunung karang. 

Dari ketinggian, meski tak sempat turun ke bibir pantai, pemandangan ini cukup memanjakan mata, penyempurna. Mataku di arahkan pada pinggiran rumah penduduk sepanjang pinggiran pantai. Di tunjukkan padaku, disana ada masjid Agung, lalu RSUD, dst. Banyak yang ia cerita, tidak heran karena dia memang bisa di kata "pemandu wisata", dia cukup terkenal. 

Ada janji yang dia belum tepati, ada dan tidak aku tuntut. Di tempat tadi, di ketinggian itu ia menunjuk satu gunung. Tempat itu kita akan lebih luas melihat kota ini. Kutanyakan, 'Bisakah di jangkau motor?', Jawabnya 'Iya!'. Ia mengisyarakat dengan kalimat yang intinya ingin mengajakku kesana. 

Waktu itu sudah berlalu lama. Itu wajar kok, namanya juga dia putra daerah, tentu akan bercerita banyak dan menyenangkan orang baru sepertiku.

Perasaan kagum ini kala itu tidak menaruh banyak harap, aku yang belum begitu tahu apa itu perasaan suka, dan jarus bagaimana menyikapi rasa itu. 

Melewati masa, sesekali bertemu, sapa dan tidak lebih, aku minder. Andai saja lebih percaya diri, mampu bergaul dengan dunianya, pasti lebih dekat.

Duaniku dengannya hanya sepatas komentar di sosmed. Sesekali tanya kabar. Sampai pada dia Wisuda, sedang aku belum, ini memalukan. Disini tarik diri dari dunia ya, berhenti mencari tahu tentangnya, malu.

Oh iya tempat yang dia janjikan itu, gunung itu, aku sudah mendakinya, sering bak milik sendiri. Teringat dia, tidak apa, biar itu menjadi rahasia rasa. Bahwa rasa itu pernah ada. Sudah tidak ada harapan. Dia sudah tidak sendiri lagi.

Terimakasih, pernah mengenalnya. Merelakannya. Bahagia. Tidak lupa dan mengenangnya sebagai teman. Pernah kenal tidak dekat. 

Siapa yang tidak bahagia melihat orang baik mendapatkan pasangan hidup.

Aku masih belum mampu percaya diri tampil di depan umum. Berwawasan luas. Berpenampilan bagus. Belum wisuda. Belum bekerja, tidak punya kerampilan. Dan semua keterlambatan ku. 

Aku tertinggal jauh, hingga suara ini tidak bisa di dengar olehnya. 

Melepasmu dengan ikhlas. Menerima kalau aku kalah sebelum berusaha. Berusaha mengimbangi bakatmu, aku kalah.


No comments:

Post a Comment