Tuesday, July 23, 2019

Aku berhenti mengangumimu (lelaki berambut gondrong)

Aku berhenti mengangumimu (lelaki berambut gondrong)

            Kaca jendela ini berdebu lagi dan lagi. Debu itu menghalagi pandanganku pada sosok  berambut gondrong itu yang selama ini ku kagumi. Bagaimana tidak, tidak lagi kudengar keberadaanya, aktifitasnya yang mengecas kekagumanku padanya karena kesibukan yang menjauhakanku darinya. Meski sesekali debu itu aku lap kembali dan kekagumanku kini semakin melebarkan senyumku. Kala itu aku mendapatinya sedang membawakan sebuah materi yang sifatnya umum di sebuah pelataran jalan yang di apit stadion dengan sekolah SMP, bahagia, haru mewarnai susasana hatiku karna bisa melihatnya lagi setelah sekian lamanya tidak ku temui wajah itu. Ku ingat pertama kali ku menagkap wajah berambut gondorong itu dengan mata tanpa dimensi media di sebuah lembaga pelatihan dasar jurnalistik yang diadakan kampus. Hari itu jatuh pada hari ke dua pelatihan jurnalitik dasar dan dia membawakan materi mengenai sejumlah peralatan yang di gunakan saat dilapangan.
Aku menyimak dengan saksama memandanginya penuh dengan harap matanya mengarah ke arahku namun aku tidak ingin mataku jatuh tepat dimatanya. karena aku malu dengan keadaanku yang mengaku menganguminya namun sampai sejauh ini tidak menyentuh dunia yang ia geluti. Aku ingat saat di bangku SMA tepatnya kelas tiga, kala itu guru memberi gambaran setiap jurusan yang nanti kami ambil di jenjang perkuliahan. Satu persatu mengutaran jurusan yang teman-temanku ingin ambil, ada yang ingin mengambil teknik pertanian, pertambangan, keagamaan dan tiba pertantyaan itu di tujukan padaku sontak mataku terbelalak dan tidak tahu mau jawab apa. Diam dan merenung, mengingat dan memilah sampai pada kata wartawan aku mendongak lalu ku utarakan, bagaimana dengan jurusan wartawan dan guruku menjabarkan seperti apa itu wartawan. 
            Tadi aku diam sejenak yah waktu sebelum menjawab wartawan, karna aku sangat pendiam dan sedikit cerwet hanya pada teman laki-laki. Alasan lainku diam karena tidak sedikitpun niatku untuk lanjut kuliah kala itu. karna orang tuaku jauh hari mengatakan “angkat tangan” dan kata itu sampai sekarangpun masi menjadi kenangan termahal yang kumiliki. Karna kata itu justru mendongkrak keputusasaanku dan hanya beralas nekat aku memulainya sampai pada saat ini aku duduk di bangku sebuah Universitas Negri.
Mengangumi itu berat, butuh pembuktian. Dan untuk membuktikan bahwa aku menganguminya ku putuskan aku membaca buku terbarunya kala itu yang berjudul “Ekspedisi Garis depan  Nusantara, Jurnal di Bawah Layar “. meski aku harus meminjam pada temanku yang ikut dalam pelatihan itu. Buku itu di bagikan cuma-cuma sebanyak tiga buah, dan temanku beruntung karna merupakan salah satunya. Seketika itu pula kumeminjam buku tersebut dari temanku sebut saja namanya lilis. Lilis orangnya cerewet tapi baik, mudah bergaul, dan pastinya oranagnya lumayan PD. Dari sifat PDnya itulah membuatku merasa gagal karna buku itu di dapatnya, iya aktif bertanya saat  sosok yang kukagumi itu menjelaskan materi. Salah satu pertanyaan yang di lontarkan lilis temanku itu dan di jawab oleh pemateri kekangumanku semakin bertambah, ini pertanyaan dan jawabannya simak dengan baik;
Lilis “kamera apa yang paling bagus di gunakan ka’, apa seperti yang kaka pake” ?
Pemateri “ ini pertanyaan yang aku tidak suka, menyebut merek sebuah alat” bla. ..bla alasan lainnya.
Penekanan dari itu, aku memahami akan mnegsingkronkan_melanjutkan atas apa yang sudah kita miliki. Maksudnya apa, ia pertama kali memiliki sebuah kamera di kasi oleh teman baiknya dengan satu lensa saja, dan kemudian ia membeli lensa yang lebih bagus lagi. Sampai ku lihat tiga atau empat lensa kala itu di meja. Lanjutnya lagi, semua kamera bagus tinggal penemppatan penggunaannya saja, terlebih yang saya miliki tidak mungkin saya membeli lensa yang berbeda dengan merk kamera yang sudah saya pegang selama ini. Sampai pada ku lihat mukanya menegang ekspresi greget, hal semacam ini bukan sebuah mainan yang harganya kecil, hasil karya yang di peroleh dari kamera ini tidak kalah dari kamera lainnya meski ada perbedaanya hanya sedikit. Semuanya benar, hatiku mengakuinya. Kita kadang tidak sadar selalu kebiasaan membandingkan, mengonta-ganti apapun itu tidaklah akan menghasilkan karya atau manfaat yang maksimal dan berkelanjutan.

Sekali, dua dan terus menerus ku dengar rentetan aktifitasnya dan karya-karyanya baik dalam bentuk hard skill dan soft skillnya justru semakin malu dan merasa tidak pantas menganguminya. Ini aneh dan tidak beralasan. Aku tidak tau sejak kapan aku suka dengan laki-laki berambut gondrong, tiap kali aku menjuampai sosok-sosok tersebut mataku melihat dengan cermat lalu dalam hati _waah ganteng.  Akkkhhh kekangumanku berawal dari hal ini kemudian takjub dengan sosoknya, sampai waktu ini menyeret rasa itu jauh sejauh-jauhnya. Saat ku langkahkan kakiku mendekat penglihatanku buram, kaca jendela itu bedebu kembali dan kuputuskan Aku berhenti menganguminya. Aku menyerah aku  belum mampu masuk ke dunianya. Lama. .. lama aku memikirkan ini lewat celah mana aku menemuinya karna pelatihan dasar jurnalistik kala itu tidak menarikku kedalamnya. Apa aku lewat traveling seperti dia,menulis, atau aktif di dunia penggerak literasi, atau hanya penikmat saja, membaca buku dan duduk diam menanti keajaiban dia menemuiku. ooh betapa berantakannya aku ini. Tidak satu pun celah-celah itu mampu aku lewati. Ku putuskan diam, duduk membaca dan memaksakan tangan ini mengetik hayalan seperti masih di SMA dua tahun yang lalu yakni menulis diary_curhat. Hanya ini yang mampu ku lakukan dan mencoba mengikhlaskan semua alasan aku mengangumi sosok berambut gondrong itu. Hati maafkan aku yang tidak mampu menjadi sosok itu, dan menemukan  apa sebenarnya kelebihanmu_cita-citaku.

No comments:

Post a Comment