Aku berhenti mengangumimu (lelaki
berambut gondrong)
Kaca
jendela ini berdebu lagi dan lagi. Debu itu menghalagi pandanganku pada
sosok berambut gondrong itu yang selama
ini ku kagumi. Bagaimana tidak, tidak lagi kudengar keberadaanya, aktifitasnya
yang mengecas kekagumanku padanya karena kesibukan yang menjauhakanku darinya.
Meski sesekali debu itu aku lap kembali dan kekagumanku kini semakin melebarkan
senyumku. Kala itu aku mendapatinya sedang membawakan sebuah materi yang
sifatnya umum di sebuah pelataran jalan yang di apit stadion dengan sekolah
SMP, bahagia, haru mewarnai susasana hatiku karna bisa melihatnya lagi setelah
sekian lamanya tidak ku temui wajah itu. Ku ingat pertama kali ku menagkap
wajah berambut gondorong itu dengan mata tanpa dimensi media di sebuah lembaga
pelatihan dasar jurnalistik yang diadakan kampus. Hari itu jatuh pada hari ke
dua pelatihan jurnalitik dasar dan dia membawakan materi mengenai sejumlah
peralatan yang di gunakan saat dilapangan.
Aku menyimak dengan saksama
memandanginya penuh dengan harap matanya mengarah ke arahku namun aku tidak
ingin mataku jatuh tepat dimatanya. karena aku malu dengan keadaanku yang mengaku
menganguminya namun sampai sejauh ini tidak menyentuh dunia yang ia geluti. Aku
ingat saat di bangku SMA tepatnya kelas tiga, kala itu guru memberi gambaran
setiap jurusan yang nanti kami ambil di jenjang perkuliahan. Satu persatu
mengutaran jurusan yang teman-temanku ingin ambil, ada yang ingin mengambil
teknik pertanian, pertambangan, keagamaan dan tiba pertantyaan itu di tujukan
padaku sontak mataku terbelalak dan tidak tahu mau jawab apa. Diam dan
merenung, mengingat dan memilah sampai pada kata wartawan aku mendongak lalu ku
utarakan, bagaimana dengan jurusan wartawan dan guruku menjabarkan seperti apa
itu wartawan.
Tadi
aku diam sejenak yah waktu sebelum menjawab wartawan, karna aku sangat pendiam
dan sedikit cerwet hanya pada teman laki-laki. Alasan lainku diam karena tidak
sedikitpun niatku untuk lanjut kuliah kala itu. karna orang tuaku jauh hari
mengatakan “angkat tangan” dan kata itu sampai sekarangpun masi menjadi
kenangan termahal yang kumiliki. Karna kata itu justru mendongkrak keputusasaanku
dan hanya beralas nekat aku memulainya sampai pada saat ini aku duduk di bangku
sebuah Universitas Negri.
Mengangumi itu berat, butuh
pembuktian. Dan untuk membuktikan bahwa aku menganguminya ku putuskan aku
membaca buku terbarunya kala itu yang berjudul “Ekspedisi Garis depan Nusantara, Jurnal di Bawah Layar “. meski
aku harus meminjam pada temanku yang ikut dalam pelatihan itu. Buku itu di
bagikan cuma-cuma sebanyak tiga buah, dan temanku beruntung karna merupakan
salah satunya. Seketika itu pula kumeminjam buku tersebut dari temanku sebut
saja namanya lilis. Lilis orangnya cerewet tapi baik, mudah bergaul, dan
pastinya oranagnya lumayan PD. Dari sifat PDnya itulah membuatku merasa gagal
karna buku itu di dapatnya, iya aktif bertanya saat sosok yang kukagumi itu menjelaskan materi.
Salah satu pertanyaan yang di lontarkan lilis temanku itu dan di jawab oleh
pemateri kekangumanku semakin bertambah, ini pertanyaan dan jawabannya simak
dengan baik;
Lilis “kamera apa yang paling bagus
di gunakan ka’, apa seperti yang kaka pake” ?
Pemateri “ ini pertanyaan yang aku
tidak suka, menyebut merek sebuah alat” bla. ..bla alasan lainnya.
Penekanan dari itu, aku memahami akan
mnegsingkronkan_melanjutkan atas apa yang sudah kita miliki. Maksudnya apa, ia
pertama kali memiliki sebuah kamera di kasi oleh teman baiknya dengan satu
lensa saja, dan kemudian ia membeli lensa yang lebih bagus lagi. Sampai ku
lihat tiga atau empat lensa kala itu di meja. Lanjutnya lagi, semua kamera
bagus tinggal penemppatan penggunaannya saja, terlebih yang saya miliki tidak
mungkin saya membeli lensa yang berbeda dengan merk kamera yang sudah saya
pegang selama ini. Sampai pada ku lihat mukanya menegang ekspresi greget, hal
semacam ini bukan sebuah mainan yang harganya kecil, hasil karya yang di
peroleh dari kamera ini tidak kalah dari kamera lainnya meski ada perbedaanya
hanya sedikit. Semuanya benar, hatiku mengakuinya. Kita kadang tidak sadar
selalu kebiasaan membandingkan, mengonta-ganti apapun itu tidaklah akan
menghasilkan karya atau manfaat yang maksimal dan berkelanjutan.
Sekali, dua dan terus menerus ku
dengar rentetan aktifitasnya dan karya-karyanya baik dalam bentuk hard skill
dan soft skillnya justru semakin malu dan merasa tidak pantas menganguminya.
Ini aneh dan tidak beralasan. Aku tidak tau sejak kapan aku suka dengan
laki-laki berambut gondrong, tiap kali aku menjuampai sosok-sosok tersebut
mataku melihat dengan cermat lalu dalam hati _waah ganteng. Akkkhhh kekangumanku berawal dari hal ini
kemudian takjub dengan sosoknya, sampai waktu ini menyeret rasa itu jauh
sejauh-jauhnya. Saat ku langkahkan kakiku mendekat penglihatanku buram, kaca
jendela itu bedebu kembali dan kuputuskan Aku berhenti menganguminya. Aku
menyerah aku belum mampu masuk ke
dunianya. Lama. .. lama aku memikirkan ini lewat celah mana aku menemuinya
karna pelatihan dasar jurnalistik kala itu tidak menarikku kedalamnya. Apa aku
lewat traveling seperti dia,menulis, atau aktif di dunia penggerak literasi,
atau hanya penikmat saja, membaca buku dan duduk diam menanti keajaiban dia
menemuiku. ooh betapa berantakannya aku ini. Tidak satu pun celah-celah itu
mampu aku lewati. Ku putuskan diam, duduk membaca dan memaksakan tangan ini
mengetik hayalan seperti masih di SMA dua tahun yang lalu yakni menulis
diary_curhat. Hanya ini yang mampu ku lakukan dan mencoba mengikhlaskan semua
alasan aku mengangumi sosok berambut gondrong itu. Hati maafkan aku yang tidak
mampu menjadi sosok itu, dan menemukan
apa sebenarnya kelebihanmu_cita-citaku.
No comments:
Post a Comment