Tuesday, July 23, 2019

“JURNALIS YANG SAYA TAHU”


JURNALIS YANG SAYA TAHU”
By Sri lestari
Mengumpulkan data dan menyuarakan kebenaran kepada mereka yang perlu tahu, itu tugas jurnalis. Mendengar, melihat dan menulis suatu komponen utama seorang untuk mengemas informasi pertama. Lanjut selangkah kita temui pemberitaan dalam bentuk lisan dalam media TV dan media wacana baik itu koran,majalah atau buku-buku pembelajaran.
Di era sekarang ini penyebaran informasi begitu cepat, semua orang bahkan bisa meniru bahkan berlaku layaknya jurnalis profesional. Bagaimana dengan seorang dengan bakatnya kemudian tidak memiliki nama (instansi) biasanya kita temukan di akun blog, tentu pembaca akan ragu dan hanya menjadi karya yang hampir tidak di anggap bahkan dapat menimbulkan cekcok yang disebabkan opini yang salah.  Dalam profesi Jurnalis sendiri meniliki kode etik seperti  (1) tidak boleh menerima suap dari siapapun (2) tidak boleh menjiplak karya/plagiarisme (3) tidak boleh membuka identitas rahasia narasumber atau semacamnya (4) tidak boleh membuat informasi bohong. Artinya dalam kegiatan baik itu bentuk pemberitaan media suara/vidio maupun media tertulis semua terkena sangsi kode etik yang dimana masih banyak orang tidak mengetahui ini.

Profesi jurnalis sendiri ada beragam, serta ada beberapa penyebutan  untuk  jurnalis. Ada namanya reporter yang identik dengan pemberitaan secara langsung dari lokasi maupun sedang wawancara dengan narasumber, begitupun wartawan. Ada koponen utama di balik jurnalis yang memiliki poin utama ialah si editor, Editorlah yang menciptakan pengambaran menarik dan tidaknya pemberitaan yang di sajikan. Setiap lembaga ataupun media group misal (Tvone, MNCgroup, cannal Radio)  ataupun media online tentu memiliki paket jurnalis masing-masing memiliki peran penting untuk menunjang kualitas informasi yang disajikan. Disisi lain dari kualitas serta persaingan media memiliki dampak positif yang manfaatnya kini kita rasakan. Berkat liputan seorang tim jurnalis jeritan penderitaan masyarakat kini tersuarakan sampai ke segala penjuru sehingga kita tahu begitupun pihak pemerintah di tempat dapat memberikan solusi dan cepat di tangani. Dengan tangan-tangan jurnalis pula opini, dan fakta di gambarkan jelas dengan tidak melupakan suber dari pada informasi khususnya para penulis.

Tulisan ini saya buat dalam rangka syarat mengikuti pelatihan jurnalis. tulisan ini sudah cukup lama saya simpan namun setiap karya akan saya abadikan. dan intinya aku gagal jadi wartawan. hehee karena, saat usai pelatihan ada informasi lewat whatsUp dan aku kala itu belum punya. akhirnya aku gugur. ..selamat yaaa aku lantas tertawa, ini konyol sekali.

No comments:

Post a Comment