“JURNALIS
YANG SAYA TAHU”
By
Sri lestari
Mengumpulkan
data dan menyuarakan kebenaran kepada mereka yang perlu tahu, itu tugas
jurnalis. Mendengar, melihat dan menulis suatu komponen utama seorang untuk
mengemas informasi pertama. Lanjut selangkah kita temui pemberitaan dalam
bentuk lisan dalam media TV dan media wacana baik itu koran,majalah atau
buku-buku pembelajaran.
Di
era sekarang ini penyebaran informasi begitu cepat, semua orang bahkan bisa
meniru bahkan berlaku layaknya jurnalis profesional. Bagaimana dengan seorang
dengan bakatnya kemudian tidak memiliki nama (instansi) biasanya kita temukan
di akun blog, tentu pembaca akan ragu dan hanya menjadi karya yang hampir tidak
di anggap bahkan dapat menimbulkan cekcok yang disebabkan opini yang salah. Dalam profesi Jurnalis sendiri meniliki kode
etik seperti (1) tidak boleh menerima
suap dari siapapun (2) tidak boleh menjiplak karya/plagiarisme (3) tidak boleh
membuka identitas rahasia narasumber atau semacamnya (4) tidak boleh membuat
informasi bohong. Artinya dalam kegiatan baik itu bentuk pemberitaan media
suara/vidio maupun media tertulis semua terkena sangsi kode etik yang dimana
masih banyak orang tidak mengetahui ini.
Profesi
jurnalis sendiri ada beragam, serta ada beberapa penyebutan untuk jurnalis. Ada namanya reporter yang identik
dengan pemberitaan secara langsung dari lokasi maupun sedang wawancara dengan
narasumber, begitupun wartawan. Ada koponen utama di balik jurnalis yang
memiliki poin utama ialah si editor, Editorlah yang menciptakan pengambaran
menarik dan tidaknya pemberitaan yang di sajikan. Setiap lembaga ataupun media
group misal (Tvone, MNCgroup, cannal Radio)
ataupun media online tentu memiliki paket jurnalis masing-masing
memiliki peran penting untuk menunjang kualitas informasi yang disajikan. Disisi
lain dari kualitas serta persaingan media memiliki dampak positif yang
manfaatnya kini kita rasakan. Berkat liputan seorang tim jurnalis jeritan
penderitaan masyarakat kini tersuarakan sampai ke segala penjuru sehingga kita
tahu begitupun pihak pemerintah di tempat dapat memberikan solusi dan cepat di
tangani. Dengan tangan-tangan jurnalis pula opini, dan fakta di gambarkan jelas
dengan tidak melupakan suber dari pada informasi khususnya para penulis.
Tulisan ini saya buat dalam rangka syarat mengikuti pelatihan jurnalis. tulisan ini sudah cukup lama saya simpan namun setiap karya akan saya abadikan. dan intinya aku gagal jadi wartawan. hehee karena, saat usai pelatihan ada informasi lewat whatsUp dan aku kala itu belum punya. akhirnya aku gugur. ..selamat yaaa aku lantas tertawa, ini konyol sekali.
No comments:
Post a Comment